MAKALAH ULUMUL QUR’AN ASBAABUN NUZUL : SEBAB-SEBAB TURUNNYA AYAT AL- QUR’AN
SENDY HERLIANTO
MAKALAH ULUMUL QUR’AN
ASBAABUN NUZUL : SEBAB-SEBAB TURUNNYA AYAT AL- QUR’AN
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil‟alamin,puja puji
syukur kepada Allah SWT, kami ucapkan atas selesainya makalah ini. Tanpa ridho,
hidayah,inayah-Nya mustahil penulisan makalah ini bisa selesai secara tepat
waktu.
Kami ucapkan banyak terima kasih kepada
Bapak Dr. Ismail Jalili, M.A yang telah membimbing dan mengajarkan Mata Kuliah
Ulumul Qur‟an serta pihak-pihak yang bersangkutan yang telah membantu,sehingga
makalah ini bisa terselesaikan.
Meskipun demikian kami menyadari
makalah ini jauh dari kata sempurna ,oleh karena itu saran dan kritik dari
semua pihak,khususnya teman-teman seprofesi menjadi harapan bagi kami guna
perbaikan selanjutnya.
Akhirnya permohonan dan harapan semoga
apa yang telah kami lakukan mendapat ridho dan kebaikan dari Allah SWT,serta
bermanfaat bagi para pembaca sebagai jembatan ilmu pengetahuan. Amin.
Bintuhan, 27 Oktober 2020
Penulis
Daftar Isi
HALAMAN JUDUL........................................................................................................... i
BAB II
PEMBAHASAN..................................................................................................... 2
·
B. Proses Turunnya Al Qur‟an............................................................................. 4
·
C. Contoh
Contoh Ayat Yang Mempunyai Asbabun
Nuzul............................... 6
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Al-Qur‟an merupakan kitab suci terakhir
yang Allah SWT mukjizatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Quran ini terdiri atas
30 juz, 114 surat dan 6666 ayat. Menurut Al- Ja‟bari
Al-Quran itu di turunkan dalam dua cara: Pertama, diturunkan sebagai permulaan
tanpa didahului suatu peristiwa atau pertanyaan. Kedua, diturunkannya seiring
terjadinya suatu peristiwa atau munculnya sebuah pertanyaan (Asbabun Nuzul).
Bagaimanapun juga sangat penting mempelajari Asbabun Nuzul karena dengan
mempelajari dan memahaminya, kita akan lebih mudah memahami sekaligus
menempatkan pemahamannya kepada posisi yang benar serta lebih memperkuat iman
dan taqwa kepada Allah SWT.
Al Wahidi berkata: “Tidak mungkin
mengetahui penafsiran ayat Al-Quar‟an tanpa mengetahui kisahnya dan sebab turunnya”.
Ibnu Daqiq al-„Id mengatakan:” penjelasan Asbabun Nuzul merupakan jalan yang
kuat dalam memahami makna Al-Quran”.
Dalam tulisan singkat ini akan sedikit
membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan asbab-an-nuzul, mulai dari
pengertian, macam-macam asbabun nuzul, fungsi pentingnya dari asbabunnuzul itu
sendiri serta kaidah yang terkandung dalam penetapan hukum yang terkait dalam
asbabunnuzul. Namun, kesempurnaan makalah ini kami sadari masih sangatlah jauh,
sehingga mungkin bagi kita untuk terus belajar dan mendalaminya di lain waktu.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah Definisi dari Asbabun Nuzul itu ?
2.
Apasajakah Macam-Macam Asbabun Nuzul itu ?
3.
Bagaimanakah Cara Mengetahui Riwayat Asbabun Nuzul ?
4.
Bagaimanakah Kaidah Yang Berlaku Atas Asbabun Nuzul ?
5.
Bagaimanakah Peranan Asbab Al-Nuzul Dalam Memahami
Dan Menafsirkan Ayat ?
C.
Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembahasan makalah
ini adalah agar
kita bisa lebih
mengenal tentang silsilah asbabun nuzul dan lebih memudahkan kita untuk
mempelajari lebih jauh lagi sehingga dalam proses mempelajarinya kita tidak
menemukan kesulitan.
BAB II PEMBAHASAN ASBABUN
NUZUL AL-QUR’AN
A. PENGERTIAN ASBABUN
NUZUL
Secara etimologi asbab al nuzul terdiri
dari kata “asbab” (bentuk jamak dari kata “sababa”) yang artinya sebab-sebab.
(almunawwir:1997:602). Sedang kata “nuzul” berasal dari kata “nazala” yang
berarti turun (almunawwir:1997:1409). Asbab
Al-Nuzul adalah sebab- sebab diturunkannya ayat Al-Qur‟an.
Menurut istilah atau secara terminologi
Asbabun Nuzul terdapat banyak pengertian, diantaranya :
a.
Menurut Az-Zarqani
“Asbab an-Nuzul adalah hal khusus atau
sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunnya ayat al-Qur‟an yang
berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi”.
b.
Ash-Shabuni
قد جحصم واقعة, اوجحدخ حادثة, فحىسل اية اوايات كريمة في شأن جهك
انىاقعة او انحادثة, فهذا هى مايسمى بـ (سبب
انىسول)
“Asbab an-Nuzul adalah peristiwa atau
kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang
berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang
diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama”.
c.
Subhi Shalih
ما وسنث اآلية اواآيات بسببه محضمىة نه او مجيبة عىه او مبيىة نحكمه زمه وقىعه
“Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya
satu atau beberapa ayat al-Qur‟an yang terkadang menyiratkan suatu peristiwa
sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika
peristiwa itu terjadi”.
d.
Mana’ al-Qathan
ماوسل قرآن بشأوه وقث وقىعه كحادثة او سؤال
“Asbab an-Nuzul adalah peristiwa yang
menyebabkan turunnya al-Qur‟an berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi,
baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi”.
Kendatipun redaksi pendefinisian di
atas sedikit berbeda, dapat disimpulkan bahwa Asbab an-Nuzul adalah
kejadian/peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat al-Qur‟an dalam rangka
menjawab, menjelaskan dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari kejadian
tersebut.
Mengutip pengertian dari Subhi
al-Shaleh kita dapat mengetahui bahwa asbabun nuzul ada kalanya berbentuk
peristiwa atau juga berupa pertanyaan. Para Ulama berpendapat bahwa berkaitan
dengan latar belakang turunya atau sebab turunnya sesuatu ayat itu berdasarkan
dua cara:
1.
Bila terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat
Qur‟an mengenai peristiwa itu.
Contoh:
dalam hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibn Abbas, yang mengatakan :
"Ketika turun, ayat : dan peringatkanlah kerabat-kerabatmu yang terdekat (QS Hijr 94),
nabi pergi dan naik ke bukit safa, lalu berseru : ` Wahai kaumku !". maka mereka berkumpul mendekat ke nabi. Ia
berkata lagi : ` bagaimana pendapatmu
bila aku beritahukan kepadamu bahwa dibalik gunung itu ada sepasukan berkuda
yang hendak menyerangmu, percayakah kamu apa yang aku katakan ? Mereka
menjawab : kami belum pernah melihat engkau berdusta.` Dan nabi melanjutkan: „aku memperingatkanmu tentang siksa yang
pedih,‟ ketika itu Abu Lahab berkata : `celakalah engkau; apakah engkau
mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini ?‟Lalu ia berdiri. Maka turunlah surah
ini :
……..)1( ب
ب وجَ
ث دَا أَ ِبي نَ َه
جَ َّب
Artinya : " celakalah
kedua tangan Abu lahab…..(Surat Al-Masad)
2.
Bila Rasulullah ditanya tentang
sesuatu hal, maka turunlah ayat Quran menerangkan tentang hukumnya.
Contoh: hal ini seperti ketika Khaulah binti Sa‟labah
dikenakan Zihar oleh suaminya Aus bin Samit.lalu ia datang kepada Rasulullah
SAW mengadukan hal itu. Aisyah berkata:
„Maha suci Allah yang pendengarannya
meliputi segalanya` aku mendengar ucapan Khaulah binti Sa‟labah itu, sekalipun
tidak seluruhnya, ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah SAW , katanya :
Rasulullah SAW, suamiku telah menghabiskan masa mudaku dan sudah beberapa kali
aku mengandung karenanya, sekarang setelah aku menjadi tua, dan tidak beranak
lagi ia menjatuhkan zihar kpdku! Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu`.
Aisyah berkata :
` tiba-tiba jibril turun membawa ayat-ayat ini :
ز ْو ِج َها…
ل انَّ ِحي جُ َجا ِدنُك ي
دْ س ِم َع ا ََّّللُ قَ ْى
Artinya : Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan
perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya ( yakni aus bin samit).`(QS:
Mujadalah 1-3)
B.
PROSES
TURUNNYA AYAT AYAT AL QUR’AN
Secara majazi
turunnya Al-Qur‟an diartikan sebagai pemberitahuan dengan cara dan sarana yang
dikehendaki Allah SWT sehingga dapat diketahui oleh para malaikat bi lauhil
mahfudz dan oleh nabi Muhammad SAW didalam hatinya yang suci.
Adapun tentang
kayfiyat Al-Qur‟an itu di turunkan telah terjadi penyelisihan antara para
ulama. Dalam hal ini ada tiga pendapat :
1. Al-Qur‟an itu diturunkan ke langit dunia pada malam al-qadr
sekaligus lengkap dari awal sampai akhir. Kemudian diturunkan berangsur-angsur
sesudah itu dalam tempo 20 tahun atau 23 tahun atau 25 tahun berdasarkan pada
perselisihan yang terjadi tentang berapa lama nabi bermukim di mekkah sesudah
beliau di angkat menjadi rasul. Pendapat ini berpegang pada riwayat Ath Thabary
dari Ibnu abbas beliau berkata “diturunkan Al-Qur‟an dalam lailatul qadr dalam
bulan ramadhan ke langit dunia sekaligus semuanya, kemudian dari sana (langit)
diturunkan sedikit sedikit kedunia”. Dari segi isnad riwayat tersebut kurang
kuat akan tetapi boleh di gunakan
2. Al-Qur‟an itu di turunkan ke langit dunia dalam 20 kali lailatul
qadr dalam 20 tahun atau 23 kali lailatul qadr dalam 23 tahun atau 25 kali
lailatul qadr dalam 25 tahun. Pada tiap-tiap malam diturunkan ke langit dunia
tersebut, sekedar yang hendak di turunkan dalam tahun itu kepada Nabi Muhammad
SAW dengan cara berangsur-angsur.
3. Al-Qur‟an itu permulaan turunnya ialah di malm al qadr, kemudian
diturunkan setelah itu dengan berangsur-angsur dalam berbagai waktu.
Adapula pendapat bahwa Al-Qur”an di turunkan tiga kali
dalam tiga tingkat:
a)
Di turunkan ke lauhil mahfudz.
b)
Di turunkan ke baitul izzah di langit dunia.
c)
Di turunkan berangsur-angsur kedunia.
Meski sanad nya
shoheh, Dr. Subhi as Sholeh menolak pendapat di atas tersebut karena turunnya
Al-Qur‟an yang demikian itu termasuk bidang yang ghaib dan juga berlawanan
dengan dzahir Al-Qur‟an.
Menurut pendapat
ulama jumhur, bahwa ”lafadz Al-Qur‟an tertulis di lauhil mahfudz lalu di pindah
dan di turunkan ke bumi”, dengan demikian tidak ada lagi lafadz-lafadz Al-
Qur‟an. Di lauhil mahfudz. Menurut pendapat Hasby Ash-Shiddiqie yang di nukil
bukan lafazd yang ter ma‟tub, hanya di salin lalu di turunkan. Hal ini sama
dengan orang yang nenghapal isi kitab Al-Qur‟an, isi kitab tetap berada dalam
kitab yang di salin dalam hapalan pun persis sebagai mana yang tertulis dalam
kitab Al-Qur‟an itu.
Al-Qur‟an
diturunkan dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai dari malam 17
Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi sampai 9 dhulhijjah Haji wada‟ tahun 63
dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H. Permulaan turunnya Al-Qur‟an ketika Nabi
SAW bertahannus (beribadah) di Gua Hira. Pada saat itu turunlah wahyu dengan
perantara Jibril Al-Amin dengan membawa beberapa ayat Al-Qur‟an Hakim. Surat
yang pertama kali turun adalah surat Al-Alaq ayat 1-5. Sebelum wahyu diturunkan
telah turun sebagian irhas (tanda dan
dalil) sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dengan sanad dari
Aisyah yang menunjukkan akan datangnya wahyu dan bukti nubuwwah bagi rasul SAW yang mulia. Diantara tanda-tanda tersebut
adalah mimpi yang benar di kala beliau tidur dan kecintaan beliau untuk
menyendiri dan berkhalwat di Gua Hira untuk beribadah kepada Tuhannya.
Al-Qur‟an
diturunkan pada bulan ramadhan berdasarkan nash yang jelas yang terdapat dalam
Surat Al-Baqarah ayat 185 :
. . . .
“(Beberapa hari
yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). “
Proses turunnya
Al-Qur‟an kepada Nabi Muhammad SAW melalui tiga tahap, yaitu :
1)
Al-Qur‟an turun secara sekaligus
dari Allah ke lauh al-mahfuzh yaitu suatu tempat
yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah. Proses
pertama ini diisyaratkan dalam Q.S Al-Buruuj :
21-22
”Bahkan yang didustakan mereka itu
ialah Al- Qur‟an yang mulia. Yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh”.
dan Q.S Al-Waqi‟ah :77-80 yang artinya :
”Sesungguhnya Al-Quran Ini
adalah bacaan yang sangat mulia, Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),
Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang
yang disucikan, Diturunkan dari
Rabbil „alamiin.
2)
Al-Qur‟an diturunkan dari Lauh
Al-Mahfuzh ke Bait Al-Izzah (tempat yang berada di langit dunia. Diisyaratkan
dalam: Q.S Al-Qadar: 1,
”Sesungguhnya kami
Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”.
dan pada QS
Ad-Dhuhan:3,
“Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi
peringatan”.
3)
Al-Qur‟an diturunkan dari Bait
Al-Izzah ke dalam hati Nabi melalui malaikat Jibril dengan cara
berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya satu ayat, dua ayat,
bahkan kadang-kadang satu surat. Diisyaratkan dalam Surat Ass-Syu‟ara‟ 193-195,
“Dia dibawa
turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu
menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan
bahasa Arab yang jelas”
C. CONTOH CONTOH AYAT YANG MEMPUNYAI ASBABUN NUZUL:
1. Asbabun Nuzul surat An Nisa’ ayat 51
Sebab-sebab turun ayat ini adalah
seorang Yahudi Mandinah bernama Ka‟ab Ibnu Asyraf datang berkunjung ke Mekkah.
Ia menyaksikan perang Badar dan mendorong orang kafir Quraisy menuntut bela dan
memerangi Muhammad SAW. Kemudian orang-orang Quraisy bertanya kepada Ka‟ab yang
mengetahui Al Kitab (Taurat): “Siapakah yang lebih benar jalannya (siapakah
yang berbeda dipihak yang benar ?) apakah Muhammad SAW ?. lalu Ka‟ab menjawab:
“kalianlah yang benar”, justru ucapan itu, maka Ka‟ab telah berdusta dan
mendapatkan kutukan oleh Allah SWT terhadap orang-orang berpandangan demikian,
kemudian turunlah
surat An Nisa‟ ayat 51 yang berbunyi:
Artinya: Apakah
kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka
percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir
(musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang
beriman.
2. Asbabun Nuzul surat Al Maidah ayat 93:
Sebab-sebab turunya ayat tersebut adalah
sahabat Usman Ibnu Mazh‟un dan Amru Ibnu Ma‟dikariba pernah mengatakan bahwa
Khamar itu sebenarnya mudah (boleh diminum), keduanya menggunakan surat
Al-Maidah ayat 93:
Artinya: Tidak
ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena
memakan makanan yang telah mereka Makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta
beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap
bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat
kebajikan. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Padahal Amru dan Ma‟dikariba belum tahu
apakah sebabnya ayat tersebut diatas diturunkan. Ayat ini turunya adalah pada
saat turunnya ayat yang mengharamkan Khamar, kemudian para sahabat bertanya
kepada Rasulullah, “bagaimanakah nasib bagi saudara- saudara kami yang telah
meninggal dunia, sedangkan dalam perut mereka ada minuman khamar (ketika hidup
mereka minum khamar), lalu Allah memberitakan bahwa minuman khamar semasa
hidupnya sedangkan ayat yang mengharamkan belum turun, telah dianggap tidak
berdosa lagi seperti yang tersebut dalam surat Al Maidah ayat 39.
Demikianlah jelas bahwa Usman dan Amru
tidak mengetahui Asbabun Nuzul surat Al Maidah 93 sehingga hampir saja keduanya
menghalalkan khamar yang telah diharamkan Allah.
3.
Asbabun Nuzul surat Ath Thalaq
ayat: 4
Artinya: Dan
perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu
jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga
bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. dan
perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka
melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya
Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.
Sebab turunya ayat ini adalah
menunjukkan bahwa sahabat Ubaiy bertanya kepada Rasulullah: “wahai Rasulullah,
sebagaian dari wanita-wanita belum
dijelaskan tentang status Iddah-nya
dalam Al-Kitab (Al-Qur‟an) yakni: wanita yang putus haid baik anak-anak maupun
orang dewasa, dan wanita yang sedang mengandung”. Maka untuk menjelaskan hal
ini (kepada Ubaiy) turun ayat 4 surat Ath Thalaq tersebut diatas.
4. Asbabun Nuzul surat Al Maidah ayat 93:
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu);
sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa
diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu
termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
"Ayat ini
diturunkan pada saat „Ubadah
bin Shamit dan Abdullah
bin Ubay bin Salul
bertengkar:
„Ubadah berkata, „Saya memiliki banyak „awliya‟
(teman/sekutu/pelindung) Yahudi, jumlah mereka banyak, dan pengaruhnya besar.
Tapi saya melepaskan diri dari mereka dan mengikuti Allah SWT dan Rasul-Nya.
Tiada pelindung bagi saya, kecuali Allah dan
Rasul-Nya‟.
Abdullah bin Ubay berkata, „Saya lebih memilih
berlindung kepada Yahudi karena saya takut ditimpa musibah. Untuk mengindarinya
saya harus bergabung dengan mereka‟. Nabi SAW berkata, „Wahai Abul Hubab,
keinginanmu tetap dalam perlindungan (kekuasaan) Yahudi adalah pilihanmu, tidak
baginya‟. Ia menjawab, „Baik, saya menerimanya‟. Karenanya, turunlah ayat ini.”
BAB III PENUTUP
1)
Asbabun nuzul adalah sebab turunnya
al-Qur‟an (berupa peristiwa/pertanyaan) yang melatarbelakangi turunnya ayat
al-Qur‟an dalam rangka menjawab, menjelaskan dan menyelesaikan masalah-masalah
yang timbul dari kejadian tersebut.
2)
Asbabun nuzul terdiri dari kata
asbab (jamak dari sababa yang artinya sebab-sebab), dan nuzul (artinya turun).
3)
Cara mengetahui riwayat asbabun
nuzul melalui periwayatan yang benar dari orang- orang yang melihat dan melihat
langsung turunnya ayat
4)
Kaidah hukum yang belum jelas dalam
al-Qur‟an, dapat dipermudah dengan mengetahui asbab-nuzulnya. Karena dengannya
penafsiran ayat lebih jelas untuk dipahami
DAFTAR PUSTAKA
Shabuni,
Muhammad Ali. 1985. At Tibyan Fi Ulum Al
Qur'an. Beirut: Alam al Kitab. Shalih, Subhi. 1988. Mabahits Fi Ulum Al Qur'an. Beirut: Alam al Kitab.
Al-Qattan,
Manna Khalil. 1992. Studi Ilmu-Ilmu
Qur'an. Jakarta: Litera Antar Nusa.
Az-Zarqani, Muhammad „Abd al-„Adzim. 1995. Manahil al-„Irfan fi „Ulum al-Quran, juz
I. Beirut: Dar al-Kitab
al-„Arabi.
Hasbi,
Muhammad.1999. Pengantar Ilmu Fiqih. Semarang: Pustaka Rizki Putra. Muhammad, Abu
Ja'far. 2008. Tafsir Ath-Thabari. Jakarta: Pustaka Azzam.
http://huseinmuhibbi.blogspot.com/2015/06/makalah-asbabun-nuzul-al-quran.html?m=1
http://makalahpendidikanislamlengkap.blogspot.com/2015/06/makalah-proses-turunnya-al-
quran.html
Komentar
Posting Komentar